Jumat, 04 Maret 2011

Daftar nama tokoh dan kelompok preman yang menguasai Jakarta

Aksi premanisme yang banyak dilakukan oleh beberapa kelompok pemuda akhir-akhir ini semakin meresahkan masyarakat umum. Berlatar belakang jasa dept collector (penagih hutang) dan pembebasan lahan sengketa, membuat banyak kelompok pemuda terutama yang berasal dari kawasan timur Indonesia telah mengontrol dan menduduki suatu kawasan tertentu di Jakarta. Nama - nama pentolan kelompok pemuda seperti Jhon Kei, tersangka atas pembunuhan bos PT. Sanex Steel dan mantan seteru kelompok pimpinan Almarhum Basri Sangaji, misalnya, merupakan himpunan para pemuda Ambon asal Pulau Kei, Maluku Tenggara. Terbentuk pasca-kerusuhan di Tual, Pulau Kei, pada Mei 2000, dengan nama resmi Angkatan Muda Kei (Amkei). Jhon Kei, pentolan Amkei, mengklaim punya anggota sampai 12.000 orang. Dari kelompok Amkei sendiri ada nama Daud Kei, wakil ketua Amkei yang juga memiliki bisnis yang sejenis dengan John Kei dan keduanya diisukan sedang berkonflik. Belum lagi nama mantan penguasa tanahabang (Hercules) yang sudah sangat tersohor, semakin membuktikan bahwa semakin hari dunia premanisme semakin berkembang dan terorganisir dengan rapi.

Selain nama-nama tokoh dan kelompok terkenal yang sudah sering kita dengar di media massa, masih ada lagi kelompok-kelompok lain yang menguasai berbagai kawasan di Jakarta.

Thalib Makarim. Sama seperti John Kei, Thalib juga pendatang. Thalib berasal dari Flores dan anggotanya kebanyakan berasal dari tempat asalnya. Bisnis yang digeluti adalah bidang pengamanan klub hiburan kelas atas, seperti Blowfish, DragonFly, X2, dan Vertigo serta pusat perbelanjaan dan hiburan malam kelas atas di daerah hingga Melawai. Selain itu, ia pernah menjadi pengacara Tommy Winata.

Abragam Lunggana. Abraham merupakan putra Betawi yang cukup disegani. Saat ini, ia menduduki jabatan Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Pemuda Panca Marga dan Wakil Ketua DPRD DKI. Bisnis yang digeluti adalah mengelola jasa parkiran dan keamanan di kawasan Jakarta Pusat, jasa pengamanan Blok F, Pasar Tanah Abang, parkiran Rumah Sakit Fatmawati, serta menguasai sejumlah area strategis di kawasan Jalan Thamrin.

Abraham mendapat kekuasaan di daerah Blok F Pasar Tanah Abang setelah berhasil merebutnya dari penguasa Betawi Muhammad Yusuf Muhi alias Bang Ucu Kambing.
Bang Ucu sendiri berhasil menguasai Tanah abang setelah menyingkirkan Hercules yang telah lama berkuasa di daerah tersebut.

Di Jakarta Timur, kawasan Kebon Singkong, Klender, diketahui menjadi "basis" preman. Dari "pemain" 365 (perampokan) hingga pencuri kendaraan bermotor berkumpul di situ. Di kawasan perparkiran Arion Rawamangun ada nama "Azis", sedangkan di Jl. Matraman-Pramuka ada nama "Edison".

Di Jakarta Pusat, nama "Hasan Suwing" masih disegani di kawasan Lokasari, Manggabesar dan sekitarnya. Kemudian mantan pembunuh bayaran yang sudah tobat, Arek Foto, juga masih punya nama di Tanah Tinggi. Atau "Yanto", yang memegang perparkiran di depan Gelanggang "Planet" Senen.

Pencopet-pencopet Senen diisukan dipimpin "Ical alias Eddy". Dan salah satu penyebab, mengapa mereka berani langsung mencopet penumpang KA di Stasiun Senen, konon karena ada beking oknum di kawasan itu. Lalu di Jl Biak-Roxy, masih ada nama "Amsir Budeg" dan "Tatang Cs" di Jl Juanda.

Di Jakarta Barat, nama "Margono" sudah cukup kuat di kawasan Cengkareng. Pemerasan pengemudi angkot setiap hari diduga dikoordinir olehnya, dan sempat terjadi tawuran massal dengan kelompok Palembang di kawasan itu.

Di Jakarta Selatan, masih ada nama preman yang "sudah sadar", yakni "Seger" yang memegang perparkiran di kawasan Blok M. Dia terkenal dalam kasus pemberontakan LP Cipinang tahun 1981, di mana dia diduga menghabisi anak buah Jhoni Sembiring (almarhum). Rekan seangkatan "Seger" adalah "Freddy Galur" serta "Plolong" (almarhum).

Di Jakarta Utara, nama "Kadim" masih disegani di kawasan pelabuhan. Di sekitar kawasan WTS Kramat Tunggak, tepatnya di Jl Kramat Jaya VI ada "dedengkot" bernama Zazuli. Mantan terhukum seumur hidup ini, dianggap penguasa kawasan Gudang Baru, Bulog dan lain-lain.

Lalu di Pademangan Barat, ada nama "Rudy Ambon" yang biasa mangkal di bioskop King. Di kawasan WTS Kalijodo, nama "Daeng Usman, Daeng Patah dan Daeng Hamid" masih disegani di daerah itu. Kemudian, nama "Royal" di Gedung Panjang, Kota.

Di Pasar Ikan sudah lama ada nama "Janaan dan Suganda" (satu lagi: Janaka sudah almarhum). Selain menguasai kuli-kuli di pelabuhan itu, juga diduga sebagai bos "bajing luncat" di kawasan pelabuhan hingga Jawa Barat. "Markas" mereka konon di belakang pabrik Bimoli, Pluit.

[sumber artikel:http://www.hamline.edu, http://www.tempo.co. sumber gambar: cover buku preman-preman jakarta, karya Maruli C.C. Simanjuntak ]

12 komentar:

  1. apa sih kerjanya polisi udah jelas para preman itu meresahkan masyarakat kok dibiarin atau takut kali yaaaaaaaaaa

    BalasHapus
  2. aku juga pengen jadi preman ah,,

    BalasHapus
  3. ada lowongan jadi PREMAN ga ya. mau dong.
    pengalaman saya:
    1. bunuh orang 4X
    2. perampokan tak terhitung lagi
    3. matahin tangan orang 5X
    4. bikin buta mata orang 2X
    5. bakar mobil orang 1X
    6. bikin pala orang dijahit tak terhitung
    7. pengalaman masuk LP 7X
    sekian catatan dari saya, kiranya saya dapat diterima di rimba persilatan yg penuh dengan darah n kekuasaan.

    BalasHapus
  4. polisi nya males,,pengenya makan gaji buta

    BalasHapus
  5. artikel menarik utk dibaca..thanks.

    BalasHapus
  6. polisi kan yang memlihara buat suatu saat kalo mau naikin pangkat tinggal tangkap salah satu, premannya biar puas dulu berkeliaran...

    BalasHapus
  7. yang pasti polisi memang memelihara preman tapi yang disegani untuk keperluan mereka, sementara preman yang kroco memang dibiarkan karena tidak menghasilkan duit

    BalasHapus
  8. kok preman kramat tunggak gak disebutin ????
    cak sai (bonek)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bonek jual bakso keliling banyak

      Hapus
  9. Mulut besar kencing belum lurus sunat belum sebuh aja belagu loe. baru belajar malak anak TK sama SD aja ud bicara bunuh,
    taik loe

    BalasHapus