Selasa, 12 Juli 2011

Cara Menyikapi Rasa Takut


Orang bilang rasa takut merupakan kelemahan, ketidak percayaan diri, sifat buruk, simbol dari sebagian besar sifat negative manusia.. so what? Jika kita takut akan sesuatu, lantas kenapa? Memiliki rasa takut tidaklah salah, asal rasa takut tersebut memang benar-benar logis dan tepat sasaran. Spesies manusia dapat bertahan hidup di muka bumi selama ribuan tahun, salah satu alasannya karena megenal rasa takut.  

Sesungguhnya manusia belajar dalam mengenal rasa takut

Menurut para ahli, rasa takut adalah reaksi emosional terhadap bahaya. Bahaya ini dapat berupa hal yang ringan seperti takut ditertawakan ketika melakukan sesuatu, takut hantu, atau dapat pula meliputi hal yang berat, seperti takut di gigit ular, di terkam harimau, dan lain-lain. Bukti rasa takut yang ada pada tubuh kita seperti; meningkatnya debar jantung, muka pucat, ingin ke toilet, berkeringat dan meningkatnya suhu tubuh. Kita tentu sering mengalami hal ini dalam kehidupan sehari-hari. 

Definis yang lain menyebutkan, rasa takut adalah persepsi, kabut, ilusi, yang diciptakan pikiran untuk memblok suara hati. Persepsi atas rasa takut tersebut diwariskan orang yang lebih tua berdasarkan pengalaman mereka akan bahaya. Hal ini dapat dibuktikan dari pengamatan terhadap jenis iguana yang hidup di kepulauan Galapagos. Iguana yang hidup di Galapagos terbukti tidak memiliki rasa takut, karena memang dahulu tidak pernah ada predator yang mengontrol populasi mereka, jadi ketika iguana ini didekati oleh mahluk lain yang lebih besar, mereka tidak melarikan diri, karena memang belum mengenal akan artinya bahaya.

Ketika rasa takut telah melewati batas toleransi dan terstimulasi pengalaman buruk masa lampau, maka dia naik ke tingkatan yang lebih parah, yakni fobia.

Fobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap Fobia sulit dimengerti. Itu sebabnya, pengidap tersebut sering dijadikan bulan bulanan oleh teman sekitarnya. Ada perbedaan "bahasa" antara pengamat fobia dengan seorang pengidap fobia. Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara di bayangan mental seorang pengidap fobia subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan.

Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek Fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidak-mampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi dapat pula disebabkan oleh suatu keadaan yang sangat ekstrim seperti trauma bom, terjebak lift dan sebagainya.

Seseorang yang pertumbuhan mentalnya mengalami fiksasi akan memiliki kesulitan emosi (mental blocks) dikemudian harinya. Hal tersebut dikarenakan orang tersebut tidak memiliki saluran pelepasan emosi (katarsis) yang tepat. Setiap kali orang tersebut berinteraksi dengan sumber Fobia secara otomatis akan merasa cemas dan agar "nyaman" maka cara yang paling mudah dan cepat adalah dengan cara "mundur kembali"/regresi kepada keadaan fiksasi. Kecemasan yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi menimbulkan akumulasi emosi negatif yang secara terus menerus ditekan kembali ke bawah sadar (represi). Pola respon negatif tersebut dapat berkembang terhadap subjek subjek fobia lainnya dan intensitasnya semakin meningkat. Walaupun terlihat sepele, “pola” respon tersebut akan dipakai terus menerus untuk merespon masalah lainnya. Itu sebabnya seseorang penderita fobia menjadi semakin rentan dan semakin tidak produktif. Fobia merupakan salah satu dari jenis jenis hambatan sukses lainnya.

Untuk menyembuhkan fobia atau rasa takut yang berlebihan, salah satunya dapat dilakukan dengan menjalani terapi yang dibantu oleh para ahli. Tetapi sebagai orang tua, kita harus dapat memilah mana yang harus kita ajarkan kepada anak tentang mimilih rasa takut yang patut dipercayai, seperti rasa takut akan bahaya dari hewan buas. Jangan pernah mengajarkan anak anda untuk mempercayai rasa takut yang tidak logis seperti fenomena hantu dan hal-hal lainnya yang justru merugikan kehidupan mereka kelak. 

Jadi kesimpulannya adalah bahwa rasa takut ada yang bersifat menguntungkan  (sebagai mekanisme pertahanan diri) ada juga yang merugikan (menghambat kesuksesan dan perkembangan mental). CEGAHLAH SEDARI DINI RASA TAKUT YANG MERUGIKAN!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar