Minggu, 08 Mei 2011

Fenomena kesurupan (kerasukan). Psikis atau Mistis?

Kepercayan sebagian besar manusia akan keberadaan alam gaib dan roh telah berlangsung sejak lama, keyakinan ini juga dikuatkan lagi oleh berbagai budaya serta agama yang ada dan diwariskan secara turun temurun. Apakah dunia gaib benar adanya, atau hanya keyakinan manusia semata karena mewarisi kepercayaan masa lampau? Kesurupan merupakan salah satu bentuk argumentasi dari keberadaan dunia lain tersebut. Atau mungkin keyakinan terhadap dunia metafisika telah membentuk ruang tersendiri dalam psikologis manusia sehingga akhirnya fenomena tersebut benar-banar menjadi nyata bagi yang mempercayainya. 

Tanda keberadaan mahluk halus dikenali dalam beberapa kejadian, seperti tangisan bayi, lolongan anjing, bulu kuduk yang tiba-tiba merinding dan yang paling meyakinkan adalah fenomena kesurupan. Bagi mereka yang kritis, kejadian-kejadian tersebut tentulah akan dipertanyakan kembali kebenarannya. Bayi yang menangis apakah benar karena melihat mahluk halus atau karena tubuhnya merasa kurang sehat atau sedang lapar? Anjing yang melolong apakah karena merasakan keberadaan roh jahat  atau sekedar mengkomunikasikan keberadaannya kepada anjing lainnya? Begitupun mengenai orang yang kesurupan, sebenarnya apa yang sedang terjadi pada mereka?

Tekanan hidup dapat berpengaruh sangat buruk terhadap mental seseorang. Sebagai pelarian atas permasalahan hidup tersebut, biasanya seseorang dapat terjerumus menjadi pengguna narkoba dan minuman keras.  Efek penggunaan narkoba akan merusak area hippocampus dan amygdala di otak yang merupakan pusat memori dan kesadaran serta menyebabkan paranoid. Jika kita perhatikan, antara efek penggunaan narkoba, kegilaan dan kesurupan memiliki ciri yang hampir serupa dan ketiganya sama-sama berlatar belakang gangguan mental atas permasalahan hidup.

Kesurupan memiliki kemiripan dengan gejala Delusi dan Histeria. Orang yang sedang kesurupan, hampir tidak ada bedanya dengan penderita schizopherenia, mereka tidak sadar bahwa sedang mengalami delusi. Delusi sendiri dapat diartikan sebagai ekspresi kepercayaan yang bersifat ilusi yang dimunculkan dalam tingkah kehidupan nyata. Perkataan dan ekspresi yang dikeluarkan oleh penderita delusi terlihat begitu nyata, sehingga orang lain akan mempercayai dengan apa yang diucapkan oleh si penderita.

Gejala lainnya yang memiliki kemiripan antara kesurupan dan masalah psikologis adalah keperibadian ganda. Orang-orang yang kesurupan biasanya menampilkan pencitraan pribadi yang berbeda dengan kesehariannya. Seperti berbicara dengan suara yang berbeda, bertingkahlaku seperti orang lain, bahkan terkadang dijumpai kasus orang yang sedang kesurupan dapat berbicara dalam bahasa asing, padahal menurut kesaksian orang terdekat, dia tidak pernah belajar bahasa tersebut. Bukan hanya bertingkah seperti orang lain yang dapat menggunakan bahasa asing, kasus-kasus kesurupan juga biasa ditemukan si penderita yang bertingkah laku seperti hewan dan mahluk gaib seperti setan dan siluman.

Jika diperhatikan melalui perspektif sejarah, kasus kesurupan memiliki tahapan dalam tiap masanya. Semakin hari kasus-kasus kesurupan semakin beragam, mengikuti perkembangan zaman. Beberapa orang menganggap bahwa fenomena kesurupan terkait kultur dan sangat berhubungan dengan budaya serta kepercayaan masyarakat lokal setempat. Karena itulah tiap agama dan bangsa memiliki pola kesurupan yang berbeda dan pola penanganan yang berbeda pula.

Terdapat berbagai jenis kesurupan yang ada, seperti kesurupan yang diakibatkan oleh roh jahat atau setan, dirasuki oleh leluhur yang sudah tiada, kerasukan tokoh atau siluman sakti. Bahkan jenis kesurupan yang paling baru diyakini disebabkan oleh mahluk asing atau yang kita kenal sebagai alien. 

Kerasukan Setan 

Kasus kesurupan yang paling umum di jumpai adalah kerasukan setan, atau roh dari mahluk gaib. Dunia barat dan timur memiliki ciri dan penanganan yang berbeda dalam menindak-lajuti kasus kesurupan setan ini, tergantung dari mitos dan agama yang diyakini oleh masyarakat lokal tempat kejadian berlangsung.

Dalam kepercayaan Katolik Roma, kasus-kasus kesurupan yang menimpa manusia disebabkan oleh setan untuk menipu dan mengalihkan kepercayaan seseorang dari agama dan tuhannya. Gejala awal kesurupan biasanya ditandai dengan menarik dirinya seseorang dari lingkungan pergaulan, kelelahan, anggota tubuh menjadi lebih kuat, sampai akhirnya kesadarannya diambilalih secara total. Sang penderita dapat disembuhkan jika setan yang merasukinya memberitahukan namanya. Nama nama setan yang dipercaya merasuki tubuh seseorang seperti: Abalam, Beelzebub, Leviathan, Ba'al. Ketika sang pengusir roh atau yang dikenal dengan ritual Exorcism telah berhasil mengungkap nama setan yang merasuki pasien, barulah ritual tersebut dapat diselesaikan dan roh jahat yang merasuki dapat diusir.

Sama halnya dengan kepercayaan Katolik Roma, dalam agama lain juga roh jahat dipercaya bertanggung jawab atas kasus-kasus kesurupan. Seperti dalam Islam, seseorang yang mengalami kesurupan diyakini karena raganya telah dikuasai oleh jin jahat yang bertujuan untuk menyesatkan iman seseorang dari agama dan tuhan. Jika umat Katolik melakukan pengusiran setan dengan membacakan ayat-ayat suci dari Alkitab, maka dalam Islam hal serupa juga dilakukan. Ayat-ayat suci Al'Quran diyakini dapat menyembuhkan dan mengusir jin yang sedang mendiami tubuh seseorang. Dari contoh kasus dua agama besar ini dapat kita lihat bahwa ternyata penanganan atas penderita kesurupan sangat terkait dengan keyakinan yang dimiliki oleh si penderita itu sendiri. 

Ritual Pemangilan Roh

Beda dengan kasus kesurupan pada umumnya yang harus segera ditangani dan dilakukan pengusiran terhadap roh jahat yang merasuki. Pada ritual adat pemanggilan roh, proses kesurupan dilakukan dengan kesengajaan.

Dahulu fenomena kerasukan atau kesurupan merupakan bagian dari ritual budaya yang dilakukan oleh para dukun atau ketua suku untuk meminta petunjuk para leluhur dalam rangka pengambilan keputusan adat dan proses penyembuhan anggota masyarakatnya yang sedang menderita suatu penyakit. Belum ditemukan jenis kerasukan oleh setan seperti sekarang ini, karena agama yang kita kenal saat ini belum ada pada saat itu. Sampai sekarang ritual serupa masih banyak di jumpai, khususnya pada masyarakat tradisional yang masih memegang kuat adat serta kebudayaan yang diwariskan oleh leluhurnya seperti orang Haiti dengan Voodoo-nya, atau ritual suku-suku Indian yang dipimpin oleh para Shaman

Di Indonesia sendiri ritual seperti ini masih dapat dijumpai pada masyarakat suku Dayak dan masyarakat Bugis yang dilakukan oleh para Bissu (dukun waria yang ada pada masyarakat Bugis). Mirip dengan ritual yang dilakukan oleh etnis lainnya di luar negeri, ritual yang terjadi, dilakukan untuk memanggil dan berkomunikasi dengan Roh para leluhur dengan cara menyediakan seseorang sebagai mediator yang akan dirasuki. Di daerah Jawa juga ritual adat dan kesenian dapat menjadikan pelakunya kesurupan, hal ini dapat dilihat pada kesenian Kuda Lumping dan Reok. Selain itu di Indonesia kasus pemanggilan roh yang menyebabkan mediatornya kesurupan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kesaktian dan benda-benda pusaka.

Dikendalikan oleh Alien

Kasus kesurupan di dunia barat biasanya disertai dengan fenomena Poltergeist atau dalam terjemahan bahasa Jerman-nya 'hantu ngamuk'. Benda benda disekitar orang yang sedang kesurupan dapat bergerak sendiri, seperti pintu yang terbuka atau menutup sendiri, meja yang bergeser sendiri, bahkan si penderita kesurupan tubuhnya dapat melayang di udara. Kejadian seperti ini juga ditemukan di Kota Nome, bagian utara Alaska. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh seorang psikolog Dr. Abigail Emily Tyler,  terdapat ratusan kasus aneh yang menimpa masyarakat di sana. Bedanya dengan kerasukan setan, kejadian yang menimpa masyarakat Nome, memiliki tahapan seperti melihat penampakan mahluk asing dan UFO sebelum terjadinya kesurupan. Yang mirip adalah ketika tubuh mereka sedang dirasuki (diambilalih oleh alien), gejala yang ada sama seperti fenomena Poltergeist, si penderita tiba-tiba dapat berbicara dalam bahasa asing, seperti bahasa Sumeria yang diketahui sudah punah, juga tubuhnya dapat melayang dengan sendirinya. Kasus-kasus yang terjadi di daerah utara Alaska biasanya berakhir dengan kematian bahkan menghilangnya sang penderita yang diyakini oleh masyarakat setempat karena diculik oleh alien.

*
Karena semakin baiknya sarana media informasi dan komunikasi yang ada, otak manusia modern telah begitu banyak merekam berbagai informasi dan peristiwa yang tersusun dalam folder-folder memori alam bawah sadarnya. Apa yang terjadi pada masyarakat barat,  diketahui juga oleh orang-orang yang ada di bagian timur, begitupun sebaliknya. Hal ini tidak menutup kemungkinan kasus kesurupan tidak lagi bersifat kultural, karena budaya-budaya yang ada pada manusia telah saling mengontaminasi. Jangan heran jika dikemudian hari ditemui kasus Poltergeist terjadi di Indonesia, atau orang Amerika yang kerasukan Kuda Lumping. Bahkan seorang ateispun tidak menutup kemungkinan dapat kesurupan karena berbagai informasi tentang dunia supranatural sudah terekam di dalam memori bawah sadar, yang ketika terpicu oleh tekanan mental maka kesadarannya akan diambil alih oleh pikiran bawah sadar atau dalam psikologi dikenal dengan istilah Ego State.

Meskipun pengetahuan manusia masih mengalami kebuntuan akan misteri yang dialami seputar fenomena kesurupan seperti Poltergeist dan kemampuan berbicara bahasa asing atau kemampuan-kemampuan di luar nalar lainnya, yang seolah-olah meyakinkan bahwa kesurupan merupakan tindakan yang dilakukan oleh mahluk lain yang menguasai tubuh manusia, tetapi kita juga jangan lupa kasus seperti itu sebenarnya biasa kita saksikan pada pertunjukan ilusionis. Bukan hanya orang kesurupan yang dapat melayang di udara, Ilusionis David Copperfield dan Chris Angle juga dapat melakukan tidakan serupa, yakni melayang di udara, bahkan memotong tubuhnya sendiri, hanya saja dikarenakan pengetahuan kita yang sangat awam maka kejadian tersebut terkesan diluar nalar. Sebenarnya kemampuan otak manusia amatlah besar, para ahli percaya saat ini hanya 10% saja kemampuan dari otak yang berhasil kita gunakan, yang jika dapat kita pergunakan secara maksimal, tidak menutup kemungkinan semua misteri yang bersifat metafisika dapat menjadi lebih realistis dan terlihat logis di mata kita.

Selain dikarenakan faktor-faktor diatas, sebagian kasus kesurupan juga diyakini sebagai tindakan rekayasa dan penipuan, sama palsunya dengan peroses penyembuhan orang yang kesurupan itu sendiri. Kasus kesurupan masal yang biasa terjadi di Indonesia contohnya: siswi pada suatu sekolah mendadak mengalami kesurupan masal, dipercaya karena rekayasa agar tidak terjadi peroses belajar mengajar di kelasnya. Atau kasus kesurupan masal karyawan suatu perusahaan yang dianggap disengaja agar mereka mendapatkan libur tanpa harus dipotong upah kerjanya.  Meskipun belum tentu sepenuhnya tuduhan tersebut benar, bahkan beberapa psikolog beranggapan bahwa kesurupan masal diakibatkan karena sugesti yang mempengaruhi orang-orang yang sedang dalam kondisi mental lemah dan berada di sekitar individu yang pertama kali mengalami kesurupan tersebut. Tetapi tidak tertutup kemungkinan banyaknya kasus kesurupan yang terjadi saat ini menimbulkan sikap skeptis pada sebagian orang yang akhirnya beranggapan bahwa kejadian tersebut sebagai bentuk rekayasa.

Sampai saat ini kasus-kasus kesurupan masih berada pada tataran luar nalar manusia dan masih harus digali lagi secara lebih mendalam misteri yang tersembunyi dibalik fenomena tersebut. Apakah kesurupan merupakan kasus psikologi atau spiritual, atau bahkan sekedar rekayasa, anda sendiri yang dapat memberikan penilaian serta kesimpulan dalam menyikapinya. Yang jelas, kesimpulan yang dihasilkan haruslah bermanfaat untuk anda secara pribadi.

[www.terakreditasi.blogspot.com]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar